Artikel

Kue Keranjang: Sejarah, Makna, dan Tradisi di Indonesia

Menjelang Tahun Baru Imlek, meja-meja di banyak rumah di Indonesia mulai dipenuhi oleh satu hidangan khas yaitu kue keranjang. Terbuat dari tepung beras ketan putih yang dikukus, kue ini memiliki tekstur lengket dengan citarasa yang manis dan lembut, sebuah simbol budaya yang telah lama ikut mewarnai tradisi Tahun Baru Imlek.

Dalam tradisi Tionghoa, kue kerangjang dikenal juga dengan sebutan nian gao (年糕). Dalam bahasa Mandarin, pengucapan nian gao identik dengan frasa yang berarti “tahun yang lebih tinggi” atau “kemajuan di tahun baru”. Karena hubungan pelafalan inilah kue keranjang diyakini membawa harapan akan peningkatan rezeki, kemajuan, dan kesejahteraan di tahun yang akan datang.

Sejarah & Maknanya

Sejarah kue keranjang berakar dari kebudayaan Tiongkok kuno. Olahan berbahan dasar tepung beras ketan ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu, bahkan sudah ada sejak periode Dinasti Utara dan Selatan, sekitar abad ke-4 hingga ke-6 Masehi. Pada masa tersebut, sajian berbasis ketan kerap hadir dalam berbagai upacara dan perayaan yang menyambut datangnya musim semi.

Kue keranjang bukan sekadar kudapan tekstur lengketnya juga memiliki makna filosofis. Kekentalan itu dianggap merepresentasikan kebersamaan dan keterikatan keluarga, simbol yang kuat bagi banyak keluarga saat berkumpul merayakan Imlek.

Selain itu, kue ini juga memiliki hubungan dengan legenda tradisional mengenai persembahan kepada Dewa Dapur, salah satu keyakinan yang berkembang dalam budaya Tionghoa. Dalam cerita tersebut, kue beras ketan dipersembahkan sebagai pembawa kabar baik agar dewa tidak mencatat kekurangan keluarga dalam laporannya kepada Kaisar Langit, sehingga membawa keberuntungan bagi keluarga di tahun yang baru.

Tradisi Kue Keranjang di Indonesia

Di Indonesia sendiri, kue keranjang sudah tidak asing lagi dijumpai. Dikutip dari detik.com, dalam persembahyangan, kue keranjang disusun bertingkat meninggi, untuk melambangkan harapan peningkatan rezeki atau kemakmuran di tahun mendatang. Beberapa keluarga juga menyusunnya dalam jumlah ganjil sebagai lambang keseimbangan dan keberuntungan.

Selain itu, kue keranjang biasanya dibagikan kepada sanak saudara sebagai ungkapan berbagi keberuntungan dan kebahagiaan. Popularitas variasi resep juga berkembang, seperti kue keranjang yang digoreng atau diolah menjadi camilan yang lebih renyah dan modern, tanpa menghilangkan makna tradisionalnya.

Hingga kini, kue keranjang tetap menjadi bagian yang istimewa dari perayaan Imlek di Indonesia. Walaupun asalnya dari tradisi Tiongkok, namun makna budaya dan simbolis yang dibawa oleh kue ini telah menyatu dengan tradisi lokal. Bagi banyak keluarga, kue keranjang bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan, harapan, dan nilai-nilai yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Back to list

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *